PEKANBARU, LIPO – Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Riau menjadi kabar baik di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi basah akibat hujan diharapkan membantu proses pemadaman dan pendinginan lahan yang terbakar.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, mengatakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Riau pada Rabu (26/8/2026).
“Pada pagi hari, hujan ringan hingga sedang terpantau terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Bengkalis, Siak, dan Kampar berdasarkan citra radar cuaca,” ujarnya.
Potensi hujan kembali meluas pada sore hingga malam hari. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Siak, Bengkalis, Rokan Hulu, Kampar, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi, Pelalawan, hingga Kota Pekanbaru.
Hujan tersebut berpotensi membantu proses pemadaman dan pendinginan di sejumlah lokasi yang sebelumnya terdampak karhutla. Curah hujan dapat membasahi vegetasi dan permukaan lahan sehingga membantu mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api.
Meski demikian, hujan belum terjadi merata di seluruh wilayah Riau. Karena itu, penanganan karhutla tetap perlu dilakukan, terutama di daerah yang masih memiliki titik panas.
BMKG mencatat sebanyak 223 titik panas terdeteksi di Riau berdasarkan pemantauan hingga Selasa (25/8/2026) pukul 23.00 WIB. Hotspot tersebut tersebar di sejumlah wilayah, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Pelalawan sebanyak 91 titik, Indragiri Hilir 45 titik, dan Bengkalis 35 titik.
Di sisi lain, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada malam hari di sebagian wilayah Kampar, Kuantan Singingi, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Kota Pekanbaru.
Masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama saat hujan disertai petir dan angin kencang.
Sementara bagi wilayah yang masih terdampak karhutla, hujan diharapkan dapat membantu upaya pemadaman sekaligus mempercepat proses pendinginan lahan sehingga potensi munculnya kembali titik api dapat ditekan.(***)