Dorong UMKM Berbasis Ekonomi Sirkular, Dosen Universitas Lancang Kuning Kembangkan Mesin Mixer Sabun Minyak Jelantah

Dorong UMKM Berbasis Ekonomi Sirkular, Dosen Universitas Lancang Kuning Kembangkan Mesin Mixer Sabun Minyak Jelantah
Persiapan mesin mixer dilakukan sebelum produksi sabun minyak jelantah untuk memastikan proses berjalan aman, lancar dan optimal

PEKANBARU, LIPO – Tim dosen Universitas Lancang Kuning (Unilak) mengembangkan teknologi tepat guna berupa mesin mixer produksi sabun berbahan minyak jelantah untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi UMKM Bank Jatah “Bank Minyak Jelantah”. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi mendorong hilirisasi limbah rumah tangga dan usaha kuliner menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut diketuai oleh Yelmiza, S.Si., M.Si., M.Sc.Tech, bersama anggota tim dosen dan mahasiswa Universitas Lancang Kuning dengan dukungan pendanaan BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026. Mitra program adalah UMKM Bank Jatah “Bank Minyak Jelantah” yang berlokasi di Rumbai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Bank Jatah memiliki potensi bahan baku minyak jelantah yang cukup besar. Dalam aktivitasnya, UMKM tersebut mampu mengumpulkan sekitar 6–10 ton minyak jelantah setiap bulan dari masyarakat dan jaringan mitranya. Minyak jelantah selama ini dikelola melalui berbagai kegiatan, mulai dari tabungan jelantah, jual beli langsung, sedekah minyak jelantah, hingga pemasaran berbasis affiliate.

Besarnya ketersediaan minyak jelantah tersebut membuka peluang pengembangan produk hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Salah satu produk yang dikembangkan adalah sabun cuci padat berbahan minyak jelantah.

Namun, proses produksi sebelumnya masih menghadapi beberapa kendala. Produksi sabun masih dilakukan dalam kapasitas sekitar 2,5 kilogram minyak jelantah per proses, menggunakan peralatan yang relatif sederhana. Kondisi ini menyebabkan kapasitas produksi belum optimal dan kegiatan produksi belum dapat dilakukan secara rutin.
Ketua tim pengabdian, Yelmiza, menjelaskan bahwa peningkatan nilai tambah minyak jelantah tidak cukup hanya melalui pelatihan pembuatan sabun. Menurutnya, diperlukan penguatan teknologi produksi sekaligus tata kelola agar UMKM mampu menghasilkan produk secara lebih konsisten.

“Program ini tidak hanya diarahkan pada pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun, tetapi juga bagaimana proses produksinya dapat berkembang menjadi lebih terstruktur, higienis, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Yelmiza.

Mesin Mixer Dilengkapi VSD, PLC dan Sensor Ultrasonik

Salah satu inovasi utama yang diterapkan adalah mesin mixer produksi sabun minyak jelantah berbasis semi-otomasi. Mesin menggunakan motor sebagai penggerak mixer dengan kecepatan yang dapat dikendalikan menggunakan Variable Speed Drive (VSD).

Sistem tersebut juga dikembangkan dengan dukungan Programmable Logic Controller (PLC) dan Sensor Ultrasonik. Melalui sistem ini, operator dapat mengatur dan memantau proses pengadukan dengan lebih mudah sesuai kebutuhan produksi.

Teknologi mixer dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik bahan dan kebutuhan operasional UMKM. Kecepatan dan torsi pengadukan dapat disesuaikan dengan kondisi campuran, sementara wadah produksi dirancang menggunakan material yang mendukung kebersihan proses serta memiliki ketahanan terhadap bahan yang digunakan dalam pembuatan sabun.

Melalui penerapan mesin tersebut, proses pencampuran diharapkan menjadi lebih homogen, waktu produksi lebih terkendali, serta kapasitas produksi dapat ditingkatkan secara bertahap.

Produksi Tidak Hanya Soal Mesin

Tim pengabdian tidak hanya memberikan solusi berupa peralatan. Pendampingan juga dilakukan melalui penataan kembali layout ruang produksi dan penyusunan Standard Operating Procedure (SOP).

Ruang produksi diarahkan menggunakan konsep alur satu arah, mulai dari penerimaan dan penyimpanan minyak jelantah, penjernihan, persiapan bahan, proses pencampuran menggunakan mesin mixer, pencetakan, pematangan, hingga penyimpanan produk jadi.

Penataan ini penting karena kondisi sebelumnya menunjukkan bahwa tata letak produksi belum sepenuhnya mengikuti alur proses. Selain mengurangi efisiensi kerja, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan menyulitkan pengendalian kualitas produk.

SOP selanjutnya menjadi pedoman bagi mitra dalam melaksanakan proses produksi secara konsisten. SOP mencakup persiapan bahan, penggunaan peralatan, pengoperasian mesin, pencetakan, penyimpanan produk, kebersihan ruang produksi hingga perawatan mesin.

Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun dinilai memiliki dua manfaat sekaligus. Dari sisi lingkungan, minyak bekas yang berpotensi dibuang ke saluran air atau tanah dapat dialihkan menjadi bahan baku produktif. Dari sisi ekonomi, pengolahan menjadi produk sabun membuka peluang terciptanya nilai tambah bagi UMKM dan masyarakat.

Bank Jatah sebelumnya telah mengembangkan sistem pengumpulan minyak jelantah yang melibatkan masyarakat melalui skema tabungan, jual beli, program sedekah hingga sistem poin. Model tersebut membuat masyarakat tidak lagi melihat minyak jelantah semata sebagai limbah rumah tangga, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Hilirisasi minyak jelantah melalui produksi sabun diharapkan semakin memperkuat konsep ekonomi sirkular, yaitu mempertahankan material agar tetap memiliki nilai guna selama mungkin dan mengurangi jumlah limbah yang berakhir di lingkungan.

Program tersebut juga diarahkan pada peningkatan produktivitas UMKM, inovasi proses produksi dan pengurangan dampak lingkungan. Dalam laporan kegiatan, pendekatan ini dikaitkan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri dan inovasi, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.

Dorong Kemandirian UMKM

Keberhasilan program selanjutnya tidak hanya diukur dari keberadaan mesin mixer, tetapi juga dari kemampuan mitra mengoperasikan teknologi secara mandiri, menerapkan SOP, menjaga konsistensi produk dan meningkatkan kapasitas produksi.

Pendampingan akan terus diarahkan pada evaluasi proses produksi, penerapan tata letak ruang, perawatan mesin, pengendalian mutu serta pengembangan pemasaran produk.

Dengan kombinasi teknologi tepat guna, peningkatan keterampilan sumber daya manusia dan penguatan tata kelola produksi, UMKM Bank Jatah diharapkan dapat berkembang dari kegiatan pengumpulan minyak jelantah menuju usaha hilirisasi yang menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berbentuk teknologi berskala besar. Teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan UMKM justru dapat memberikan dampak langsung terhadap produktivitas, lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui pengolahan minyak jelantah menjadi sabun, limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber daya produktif sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.****

 

 

Ikuti LIPO Online di GoogleNews

#UMKM

Index

Berita Lainnya

Index