LIPO - Dahulu kala di sebuah negeri yang makmur bernama Nokoha, hiduplah jutaan rakyat yang damai dan sejahtera. Namun kedamaian itu perlahan terkoyak oleh hadirnya sekelompok kecil elite super kaya yang dikenal sebagai kaum oligarki.
Oligarki ini awalnya juga biasa saja, mereka bukan dari kalangan berduit. Namun, seiring berjalannya waktu dan silih bergantinya pemerintahan, mereka inipun mulai mendapat banyak kemudahan dalam menjalankan usaha.
Kebijakan pemimpin negeri memberi mereka banyak kemudahan, awalnya tentu saja dengan maksud baik. Dengan meningkatnya kesejahteraan para pemilik perusahaan, diharapkan dapat membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat lainnya.
Para oligarki ini adalah segelintir elite yang kini telah terlanjur besar. Mereka menguasai hutan, lautan, tambang, hingga akhirnya mampu mengatur arah hukum dan kebijakan negeri.
Dalam perjalanannya, kaum oligarki ini ternyata licik. Mereka tidak bergerak secara terang-terangan di jalan yang benar, melainkan duduk santai di belakang meja pualam, mulai menyusup ke para pembuat undang-undang demi melanggengkan kekayaan dan kekuasaan mereka.
Akibatnya, hutan adat-pun mereka gunduli untuk sebuah proyek tambang. Kebutuhan bahan pokok mulai melambung tinggi, dan rakyat kecil-pun semakin menjerit kelaparan.
Setiap kali rakyat mencoba memprotes, para penjaga kekuasaan yang sudah dibawah pengaruh oligarki selalu membungkam mereka dengan dalih, "demi kemajuan negeri."
Padahal, kemajuan itu hanya dinikmati oleh segelintir kroni. Negeri yang seharusnya milik bersama, perlahan berubah menjadi milik pribadi para oligarki.
Hingga suatu hari, terjadi perubahan politik di negeri Nokoha. Kini Nokoha dipimpin oleh seorang ksatria bernama Garuda, dan tuan Garuda sebenarnya memiliki keinginan mulia, dan mempunyai tekad yang kuat ingin memerangi oligarki.
Namun, niat tulus Tuan Garuda tidak sepenuhnya mendapat dukungan dari aparat di bawahnya, karena sebagian besar elemen negeri sudah dibawah pengaruh oligarki.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, sekelompok tokoh dari berbagai profesi yang masih memiliki pikiran waras mulai berbincang-bincang terkait penderitaan dan ketidakadilan yang dialami rakyat.
Para tokoh ini akhirnya bersatu membuat sebuah gerakan, tentu saja dengan niat untuk membantu pemerintah dalam perang melawan oligarki, dan gerakan tersebut mereka beri nama, Gerakan Membangkitkan Kesadaran Rakyat (GMKR).
Gerakan ini dalam waktu sekejap mampu mengidentifikasi, bahwa kaum oligargi ternyata sangat takut pada suatu hal yaitu, jika rakyat bersatu dalam sebuah kesadaran.
GMKR-pun mulai bergerak dari desa ke desa, dari sudut kota ke pelosok negeri untuk menyadarkan masyarakat.
"Saudara-saudaraku !, lihatlah ladang kita yang kering dan sungai kita yang tercemar !", teriak tokoh GMKR menggema. "Mereka bisa membeli hukum, mereka bisa menyewa para pengawal, mereka bisa menguasai politik, bahkan mereka-pun mampu menuasai Sumber Daya Alam, tetapi mereka tidak akan pernah bisa membeli keberanian yang kita miliki, asal kita bersatu !."
Ajakan GMKR inipun menyebar dengan cepat bagai angin yang bertiup kencang. Rakyat yang awalnya terpecah belah, kini mulai menyatukan langkah. Para petani, nelayan, buruh pabrik, hingga kaum terpelajar saling merangkul. Mereka sepakat untuk memutus rantai keserakahan.
Pada suatu pagi yang menentukan, kaum oligarki telah matang merencanakan sebuah undang-undang baru yang jika diberlakukan akan merampas sisa-sisa tanah rakyat demi sebuah proyek raksasa yang mereka gadang-gadang. Biasanya rakyat hanya diam dan beraninya cuma marah dan memaki-maki di media sosial.
Namun kali ini berbeda, ribuan rakyat bergerak serentak, mereka tidak lagi hanya berteriak sendiri di group-group _whatshapp_, tapi secara kompak, mereka mulai memboikot produk-produk milik perusahaan oligarki, memadati jalanan secara damai namun tegas serta menolak tunduk pada ancaman.
Karyawan mulai menolak bekerja untuk pabrik yang merusak lingkungan, dan para pedagang mogok massal sebagai bentuk protes melihat karut marutnya keadaan ekonomi.
Kepanikan mulai melanda para oligarki. Mereka yang mencoba mempengaruhi pengawal negeri untuk mengusir rakyat, namun para pengawal negeri yang awalnya juga kebanyakan berasal dari rakyat biasa, hati nurani mereka mulai tergugah
melihat keluarga dan tetangga mereka berjuang demi keadilan.
Akhirnya, para pengawal negeri-pun menolak menodongkan senjata kepada saudaranya sendiri. Kehilangan dukungan dan lumpuhnya roda ekonomi membuat kaum oligarki tak berdaya.
Kelompok elite itu akhirnya menyadari, bahwa tanpa rakyat, kekayaan dan kekuasaan mereka hanyalah ilusi belaka.
Melihat kekuatan kolektif rakyat yang tak lagi terbendung, Garuda selaku pemimpin negeri Nokoha terpaksa membatalkan undang-undang yang sangat pro-oligarki, dan mencabut hak-hak istimewa kaum elite tersebut.
Sejak hari itu, kekuasaan benar-benar kembali ke tangan rakyat. Negeri Nokoha kembali berjaya bukan karena rakyatnya orang kaya, melainkan karena rakyatnya kompak dan sadar bahwa jika ingin selamat, kuncinya hanya satu, mereka harus bersatu memerangi oligarki.
Kisah negeri Nokoha ini tentu sangat menginspirasi dan semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Bandung, Ahad 12 Juli 2026,
Penulis,
*Edy Natar Nasution