LIPO - Hari-hari yang seharusnya berjalan biasa kembali berubah menjadi penuh kecemasan bagi masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), khususnya warga Kota Tembilahan dan sekitarnya. Air pasang yang datang perlahan namun pasti, kembali mengingatkan mereka pada siklus tahunan yang tak pernah benar-benar usai.
Sejak beberapa hari terakhir, debit air terus mengalami peningkatan. Air laut yang terdorong naik ke daratan melalui sungai dan parit-parit akhirnya meluap, menutupi sebagian besar badan jalan dan merayap masuk ke kawasan permukiman. Genangan demi genangan seolah menjadi pemandangan yang akrab, meski tak pernah benar-benar diterima dengan lapang dada.
Ironisnya, fenomena banjir rob atau yang dikenal warga setempat sebagai air pasang dalam ini baru saja berlalu belum lama berselang. Namun, sebelum masyarakat sempat bernapas lega, air kembali naik dan menguasai ruang hidup mereka di Negeri Seribu Parit Hamparan Kelapa Dunia.
Bagi warga yang bermukim di dataran rendah, hari-hari ini diisi dengan kesibukan yang melelahkan. Air tidak hanya menggenangi halaman rumah, tetapi juga masuk hingga ke ruang-ruang dalam. Perabotan, alat elektronik, hingga barang-barang kebutuhan sehari-hari terpaksa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi agar terhindar dari kerusakan.
“Kalau air sudah masuk ke rumah, kami tidak bisa berbuat banyak. Angkat-angkat barang terus,” ujar Siti (33), seorang ibu rumah tangga di kawasan Tembilahan Hilir, Senin 5 Januari 2026 sore.
Ia mengaku khawatir perabot rumah tangga dan peralatan dapur rusak, apalagi air pasang kali ini datang lebih cepat dari perkiraan.
“Anak-anak juga jadi susah tidur, lantai basah semua,” tambahnya.
Genangan air juga membawa persoalan lain. Sampah-sampah yang terbawa arus berserakan di jalanan dan pekarangan, menambah kesan kumuh serta kekhawatiran akan munculnya penyakit. Aroma air bercampur lumpur menjadi bagian dari keseharian yang tak bisa dihindari warga.
Selain itu, aktivitas masyarakat pun ikut terganggu. Sejumlah ruas jalan utama yang biasa dilalui warga untuk bekerja, bersekolah, maupun berbelanja kini terendam air. Di beberapa titik, ketinggian air bahkan mencapai lutut orang dewasa.
Sementara bagi Dedi (30), salah seorang pekerja kantoran di Tembilahan, banjir rob bukan hanya soal genangan air, tetapi juga ancaman keterlambatan dan risiko di perjalanan.
“Setiap pulang kerja saya harus ekstra hati-hati. Kalau nekat lewat jalan yang tergenang, motor bisa mogok. Tapi kalau mutar, jalannya jauh,” ungkapnya.
Ia mengaku sering pulang dari kantor dan tiba di rumah dengan sepatu basah dan pakaian terkena cipratan air.
Kendaraan roda dua menjadi yang paling terdampak. Tak sedikit pengendara sepeda motor yang terpaksa berhenti di tengah jalan akibat mesin mati setelah menerobos genangan air. Beberapa warga bahkan memilih menuntun kendaraannya demi menghindari kerusakan yang lebih parah.
Di tengah keterbatasan, masyarakat nyaris tak memiliki banyak pilihan. Upaya yang bisa dilakukan sebatas bertahan dan berharap agar air segera surut, seperti yang selalu mereka lakukan setiap kali banjir rob datang menghampiri. Kesabaran menjadi satu-satunya modal, meski kelelahan dan kecemasan terus mengendap di benak warga.
Namun, di balik wajah-wajah letih orang dewasa, terselip potret lain yang kontras. Anak-anak terlihat tertawa riang, berenang dan bermain air bersama teman-temannya di genangan banjir. Bagi mereka, air pasang adalah arena bermain yang menyenangkan, tanpa beban kekhawatiran akan kerusakan atau kerugian.
Banjir rob kembali menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat pesisir seperti Inhil, hidup berdampingan dengan alam adalah keniscayaan. Di antara pasang yang terus datang, harapan warga tetap sama agar suatu hari mereka tidak lagi sekadar bertahan, melainkan benar-benar terlindungi dari banjir yang berulang.*****