PEKANBARU, LIPO - Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Medali Emas Manurung, menilai implementasi program biodiesel B50 yang berlaku sejak 1 Juli belum mampu mendorong kenaikan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
Menurut Gulat, harga crude palm oil (CPO) yang menjadi acuan harga TBS justru cenderung menurun setelah penerapan B50. Akibatnya, harga TBS petani swadaya hanya berkisar Rp2.400-Rp3.200 per kilogram, sedangkan petani plasma berada di kisaran Rp2.800-Rp3.800 per kilogram.
"Pasca implementasi B50, harga TBS petani sawit tidak kunjung terdongkrak. Harga CPO di tender KPBN maupun ACDX justru turun," ujar Gulat, Senin 3 Agustus 2026.
Ia menilai kondisi tersebut bertolak belakang dengan teori ekonomi, di mana peningkatan permintaan akibat program B50 seharusnya mendorong kenaikan harga CPO dan TBS.
Gulat juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai selisih harga CPO Indonesia dengan pasar internasional. Menurutnya, setelah Presiden menyinggung persoalan tersebut, harga CPO domestik sempat naik, namun belum memberikan dampak signifikan terhadap harga TBS petani.
Maka dari itu, Gulat menilai salah satu penyebab rendahnya harga CPO nasional adalah masih digunakannya mekanisme tender KPBN sebagai acuan harga. Karena itu, organisasi petani sawit tersebut kembali mengusulkan pembentukan Bursa Sawit Indonesia agar penetapan harga CPO lebih transparan dan mencerminkan posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.
Selain itu, Gulat menyoroti kondisi petani swadaya yang dinilai paling terdampak karena belum memiliki perlindungan harga seperti petani plasma.
"Kami berharap pemerintah segera memperbaiki tata niaga sawit, termasuk memperkuat kemitraan antara petani swadaya dan pabrik kelapa sawit, agar manfaat program B50 benar-benar dirasakan oleh petani," pungkasnya.
Seperti diketahui pemerintah mulai menerapkan bahan bakar biodiesel B50 pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel nasional yang sebelumnya telah melalui tahapan B5, B20, B30, hingga B40.
B50 merupakan campuran 50 persen solar dan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit yang ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.*****