NTP Riau Turun 6,62 Persen pada Juni 2026, Terendah se-Sumatera

Senin, 06 Juli 2026 | 12:31:18 WIB
Ilustrasi/F: int

PEKANBARU, LIPO - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Riau pada Juni 2026 tercatat sebesar 193,69. Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 6,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Mei 2026) yang berada di angka 207,41. Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Asep Riyadi.

Dikatakannya penurunan NTP ini menjadi yang tertinggi di antara provinsi lain di Pulau Sumatera. Secara umum, dari 10 provinsi di Sumatera, hanya 3 provinsi yang mencatatkan penurunan NTP pada periode ini. Selain Riau, penurunan juga terjadi di Provinsi Bengkulu (2,52 persen) dan Sumatera Utara (2,36 persen). 

Sementara itu, 7 provinsi lainnya justru mengalami peningkatan, dengan Sumatera Selatan mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,55 persen.

Menurut Asep Riyadi, turunnya NTP Riau disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) menurun sebesar 6,18 persen. Kedua, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru mengalami kenaikan sebesar 0,46 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan petani menurun sementara biaya konsumsi rumah tangga mereka meningkat.

Lebih lanjut, BPS Riau juga mencatat adanya peningkatan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) pertanian sebesar 0,49 persen pada Juni 2026. Kenaikan ini terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 0,74 persen, serta kelompok transportasi yang naik 0,46 persen. Namun, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru menurun 0,22 persen, sementara kelompok pendidikan cenderung stabil.

Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Provinsi Riau juga ikut terkoreksi. NTUP tercatat turun 6,55 persen, dari 201,88 pada Mei 2026 menjadi 188,65 pada Juni 2026. Penurunan NTUP ini dipicu oleh menurunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 6,18 persen, serta meningkatnya indeks biaya produksi (BPPBM) sebesar 0,40 persen.

"Penurunan ini menjadi perhatian kita bersama, karena selain daya beli petani menurun, biaya produksi dan konsumsi juga meningkat," ujar Asep Riyadi, 6 Juli 2026.*****

 

Terkini