Pekanbaru, LIPO – Pengurus Wilayah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Provinsi Riau menggelar Training of Trainers (TOT) Fasilitator dan Pengelola Sekolah Lansia BKMT Riau di Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau, Jumat (6/6/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang akan mendukung penyelenggaraan Sekolah Lansia BKMT Riau secara profesional, terarah, dan berkelanjutan.
Ketua Panitia, Rahmita B. Ningsih, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan TOT bertujuan menyamakan persepsi para pengelola dan fasilitator Sekolah Lansia, meningkatkan kapasitas pendampingan bagi peserta lansia, menyiapkan sistem pengelolaan dan pembelajaran yang terarah, serta membangun komitmen bersama dalam mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bahagia.
Ketua Panitia, Rahmita B. Ningsih,
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB hingga 16.30 WIB tersebut diikuti oleh 100 peserta yang berasal dari berbagai unsur, antara lain Indonesia Ramah Lansia (IRL), Persatuan Dokter Keluarga Indonesia, Universitas Riau, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, BKKBN Riau, Pengurus Daerah BKMT se-Provinsi Riau,
Pengurus Sekolah Lansia Amal Ikhlas, Yayasan Amal Bhakti Majelis Taklim (YABMT), serta perwakilan delapan bidang di lingkungan PW BKMT Provinsi Riau.
Menurut Rahmita, keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya dukungan dan kolaborasi multipihak dalam mewujudkan Sekolah Lansia BKMT Riau sebagai wadah pembelajaran nonformal bagi para lanjut usia, khususnya perempuan lansia.
Hingga saat ini, program tersebut telah mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat dengan jumlah calon peserta mencapai sekitar 170 orang.
Sementara itu, Ketua PW BKMT Provinsi Riau, Septina Primawati, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa Program Sekolah Lansia merupakan salah satu ikhtiar BKMT dalam memperluas layanan pendidikan dan pembinaan umat yang selama ini tidak hanya berfokus pada generasi muda, tetapi juga kepada para lanjut usia.
Menurutnya, Sekolah Lansia BKMT akan berada di bawah naungan Yayasan Amal Bhakti Majelis Taklim (YABMT) dan menjadi bagian dari program Bidang Kesehatan PW BKMT Provinsi Riau.
“BKMT meyakini bahwa Sekolah Lansia merupakan program yang sangat positif dan selaras dengan visi organisasi, yaitu menjadikan majelis taklim sebagai pusat pembinaan umat yang religius, berilmu, berakhlakul karimah, mandiri, serta menjadi perekat ukhuwah Islamiyah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Septina.
Ia menjelaskan bahwa selama ini BKMT melalui YABMT telah mengelola berbagai lembaga pendidikan formal mulai dari Taman Kanak-Kanak, Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Namun demikian, perhatian terhadap kelompok lanjut usia juga menjadi bagian penting dari pengabdian BKMT kepada masyarakat.
“Para lansia, khususnya lansia perempuan, telah memberikan pengabdian yang besar bagi keluarga dan masyarakat. Karena itu mereka juga membutuhkan ruang pembelajaran, ruang silaturahmi, dan ruang pemberdayaan agar tetap sehat, aktif, produktif, serta memiliki kualitas hidup yang baik,” katanya.
Septina menambahkan, Sekolah Lansia BKMT diharapkan menjadi wadah pendidikan nonformal yang mampu meningkatkan kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual para lansia.
Program ini mengusung tagline ‘Belajar, Sehat, Bahagia, dan Berkah di Usia Senja’ sebagai semangat dalam membangun lansia yang berdaya sekaligus bahagia.
Untuk mempersiapkan program tersebut, BKMT Riau telah melakukan berbagai langkah strategis melalui audiensi dan penjajakan kerja sama dengan sejumlah mitra, antara lain BKKBN Riau, RSUD Arifin Achmad, Universitas Riau, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, serta pengelola Masjid Raya An-Nur Provinsi Riau.
“Karena program ini diselenggarakan secara gratis dan tidak berorientasi pada keuntungan, maka sinergi dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilannya. Alhamdulillah seluruh mitra yang kami kunjungi memberikan apresiasi dan dukungan yang sangat baik terhadap gagasan Sekolah Lansia BKMT,” ungkapnya.
Menurut Septina, dukungan tersebut mencakup berbagai aspek mulai dari penyediaan fasilitator, narasumber, layanan kesehatan, sarana dan prasarana, hingga pendampingan dalam pelaksanaan program.
Dalam kesempatan tersebut, Septina juga menegaskan pentingnya pelaksanaan TOT sebagai upaya membangun standar yang sama dalam pengelolaan Sekolah Lansia.
“Untuk mewujudkan Sekolah Lansia yang berkualitas, diperlukan kesamaan persepsi dan pemahaman yang utuh di antara pengelola dan fasilitator. Melalui TOT ini, kita berharap materi pembelajaran, modul, metode pendampingan, serta tata kelola sekolah lansia dapat berjalan secara terstandarisasi dan memiliki kualitas yang sama,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Indonesia Ramah Lansia (IRL) yang telah memberikan dukungan dan pendampingan dalam mempersiapkan kegiatan tersebut.
“Terima kasih kepada Indonesia Ramah Lansia yang telah mendampingi dan mempersiapkan kegiatan ini dengan baik. Semoga kolaborasi yang terjalin menjadi amal kebaikan dan memberikan manfaat yang luas bagi para lansia,” tambahnya.
Melalui kegiatan TOT yang menghadirkan materi tentang konsep dasar sekolah lansia, manajemen dan administrasi, kurikulum dan metode pembelajaran, hingga praktik fasilitasi, para peserta diharapkan memiliki kesiapan yang memadai untuk menjadi fasilitator dan pengelola yang profesional, penuh empati, serta mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan bagi para lansia.
BKMT Riau berharap Sekolah Lansia Amal Ikhlas dapat menjadi model pembelajaran lansia yang berkualitas dan berkelanjutan di Provinsi Riau. Program ini juga diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, produktif, bahagia, dan bermartabat, sekaligus memperkuat peran BKMT dalam pembangunan masyarakat yang berakhlakul karimah dan berdaya saing.(***)