Menengok Ekonomi Riau Ditengah Badai Dolar

Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:39:21 WIB
Dahlan Tampubolon, Ph.D.

LIPO - Kita orang Riau ini harus sadar, dolar naik sampai Rp18.000 itu bukan cuma berita di tipi-tipi Jakarta. Itu urusan perut kita juga. Riau adalah provinsi dengan ekonomi yang sangat terbuka dan berorientasi ekspor, salah satu yang terbesar di Sumatera. Selama Januari - April 2026, neraca perdagangan Riau mencatatkan surplus US$5,96 miliar yang dipicu oleh surplus sektor nonmigas dan migas, dengan arus masuk devisa dari sektor nonmigas saja mencapai US$5,74 miliar.

Dalam kerangka teori Open Economy-nya Mundell-Fleming, ekonomi yang sangat terbuka seperti Riau justru memiliki paparan (exposure) ganda terhadap gejolak nilai tukar. Di satu sisi menikmati keuntungan konversi ekspor, di sisi lain menanggung risiko dari sisi biaya input dan daya beli domestik. Kita ini bukan cuma penonton, kita ini pemain yang langsung kena "hantam" tiap kali dolar main-main.

Di sinilah letak ironi terbesar yang kita rasakan sebagai orang Riau. Logikanya, kalau dolar kuat dan ekspor CPO dihargai dalam mata uang asing, seharusnya petani sawit kita kecipratan rezeki. Faktanya tidak sesederhana itu. Meskipun dolar menguat, dampaknya tidak terlalu terasa terhadap harga TBS karena harga CPO dunia justru sedang turun, seiring melemahnya penyerapan pasar internasional dan mulai beralihnya sejumlah negara importir ke minyak nabati alternatif yang lebih murah seperti minyak kedelai.

Harga TBS di beberapa daerah di Riau sempat menyentuh Rp1.750 per kilogram di Kabupaten Rokan Hilir dan Rp1.800 per kilogram di Kabupaten Pelalawan, jauh di bawah harga penetapan resmi pemerintah. Inilah yang dalam ilmu ekonomi disebut price transmission asymmetry: keuntungan di hulu rantai nilai tidak otomatis menetes ke bawah ke tingkat petani kebun.

Nilai ekspor Riau Januari - Februari 2026 mencapai US$3,69 miliar atau naik 10,31 persen dibanding periode yang sama tahun 2025, dengan komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati sebagai primadona yang menyumbang 63,92 persen terhadap keseluruhan ekspor nonmigas Riau. Angka ini memang membanggakan, namun kita harus jujur membacanya dalam perspektif teori Resource Curse atau kutukan sumber daya alam.

Riau yang begitu mendominasi ekspor berbasis komoditas primer justru rentan terhadap Dutch Disease, di mana surplus perdagangan komoditas tidak diikuti oleh perkembangan sektor industri manufaktur bernilai tambah tinggi. Akibatnya, masyarakat di luar rantai sawit tidak menikmati limpahan kemakmuran tersebut. Kita ekspor besar, tetapi sebagian besar nilai tambah dinikmati oleh pembeli di luar negeri, bukan oleh petani dan masyarakat desa di Kampar, Rokan Hulu, atau Indragiri Hulu.

Sisi lain yang jarang dibicarakan adalah bagaimana penguatan dolar memukul biaya produksi di tingkat petani dan pelaku usaha kecil Riau. Belum lagi soal pupuk. Urea, TSP, KCl itu bahan bakunya impor semua. Rupiah jatuh, harga pupuk langsung "terbang". Petani kecil kita yang paling pening. Pupuk kimia seperti urea, TSP, dan KCl yang sebagian besar masih diimpor atau bahan bakunya berbasis impor, harganya otomatis merangkak naik ketika rupiah melemah.

Teori Cost-Push Inflation menjelaskan dengan tepat mekanisme ini: kenaikan biaya produksi yang dipicu oleh imported inflation akan mendorong harga-harga umum naik di tingkat konsumen. Ketidakpastian global masih membayangi perekonomian regional Riau, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga energi dan komoditas pangan dunia. Hal ini bagi Riau mempengaruhi nilai ekspor sektor migas dan CPO serta kenaikan harga Tandan Buah Segar. Bagi ibu rumah tangga di Pekanbaru yang berbelanja di pasar tradisional, kenaikan harga minyak goreng, tepung, dan kebutuhan pokok lainnya adalah manifestasi paling nyata dari dolar yang menggila di panggung global.

Dari sisi APBD, fenomena ini menghadirkan dua wajah yang berlawanan. Di satu sisi, pelemahan rupiah berpotensi mendongkrak penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) perkebunan serta royalti sektor migas yang sebagian dihitung berbasis harga dolar. Namun di sisi lain, proyek-proyek infrastruktur yang menggunakan bahan material dengan komponen impor besi, baja, mesin konstruksi mengalami eskalasi biaya yang tidak terencana.

Perekonomian Riau tumbuh 4,94 persen pada triwulan IV-2025. Angka ini memang jauh melampaui capaian periode yang sama tahun 2024 sebesar 3,52 persen, namun masih di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 5,39 persen. Kesenjangan antara pertumbuhan Riau dan nasional ini menunjukkan bahwa manfaat boom komoditas belum sepenuhnya ditransmisikan ke dalam pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkualitas di daerah kita sendiri.

Riau pernah menjadi raja migas Indonesia. Kini kenyataannya pahit: ekspor migas Riau hanya berada di angka US$87,29 juta sepanjang Januari hingga Februari 2026, merosot tajam 63,92 persen dibanding tahun sebelumnya. Sumur-sumur tua di Blok Rokan yang cadangannya terus menyusut tidak akan serta-merta lebih produktif hanya karena dolar menguat.

Inilah yang dalam teori Staple Theory of Growth disebut sebagai jebakan ketergantungan pada komoditas yang bersiklus: ketika harga internasional tinggi, semua gembira; ketika produksi merosot dan harga turun, tidak ada fondasi industri lain yang mampu menanggung beban perekonomian daerah. Pelemahan rupiah memang menambah nilai nominal penerimaan migas dalam rupiah, tetapi tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa basis produksi kita semakin tipis dan harus segera digantikan oleh sektor ekonomi baru.

Mayoritas masyarakat Riau yang berada di perkotaan pedagang pasar, pelaku UMKM kuliner, jasa, dan perdagangan berada di kelompok yang paling tidak terlindungi dari gejolak kurs ini. Mereka tidak mengekspor CPO, tidak memiliki aset dolar, tetapi harus menyerap kenaikan harga bahan baku, ongkos kirim, dan biaya operasional yang terus membengkak.

Teori Distributional Effects of Exchange Rate menegaskan bahwa depresiasi nilai tukar secara sistematis memindahkan kekayaan dari konsumen dan kelompok berpendapatan tetap kepada eksportir dan pemilik aset valas. Di Riau, yang menikmati keuntungan adalah perusahaan perkebunan dan korporasi CPO besar, sementara yang menanggung beban justru ibu rumah tangga, guru honorer, dan pedagang kaki lima di Pasar Kodim Pekanbaru yang daya belinya terus tergerus.

Di balik tekanan ini, ada peluang yang harus kita tangkap dengan cerdas sebagai masyarakat dan pemangku kepentingan daerah. Penguatan dolar sejatinya adalah sinyal pasar yang mempertegas satu hal: Riau tidak boleh terus-menerus menjual bahan mentah. Ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Riau tumbuh 30,60 persen dan ekspor hasil pertanian naik 22,61 persen sepanjang Januari–Agustus 2025. Ini menunjukkan bibit diversifikasi mulai tumbuh dan harus dipupuk lebih agresif.

Dalam perspektif teori Competitive Advantage-nya Michael Porter, Riau memiliki keunggulan komparatif yang luar biasa di kelapa sawit, pulp dan kertas, serta karet. Tetapi keunggulan komparatif itu hanya akan bertahan jika di hilirisasi menjadi keunggulan kompetitif melalui pengolahan produk bernilai tambah tinggi di dalam daerah, bukan sekadar ekspor bahan baku ke luar negeri. Pemerintah daerah harus menjadikan momentum ini sebagai akselerator kebijakan industri yang sesungguhnya.

Sebagai orang Riau, kita perlu jujur pada diri sendiri: kekayaan alam yang luar biasa ini selama ini terlalu sering kita nikmati sebagai windfall tanpa membangun fondasi ekonomi yang kokoh dan tahan banting. Volume ekspor Riau pernah mengalami tekanan akibat runtuhnya jembatan penghubung dermaga Pelabuhan Tanjung Buton di Kabupaten Siak yang menyebabkan terganggunya aktivitas ekspor-impor serta peningkatan biaya logistik. Satu kejadian infrastruktur saja sudah bisa mengguncang rantai ekspor kita. Bayangkan apa yang terjadi jika harga CPO global runtuh dalam waktu yang bersamaan dengan melemahnya rupiah.

Oleh karena itu, langkah yang paling konkret dan mendesak bagi Riau adalah: mendorong hilirisasi sawit secara sungguh-sungguh, memperkuat konektivitas infrastruktur logistik, membangun SDM yang kompeten di bidang ekonomi digital dan industri pengolahan, serta mendorong penggunaan instrumen lindung nilai bagi petani dan pelaku UMKM.

Dolar boleh menggila di luar sana, tapi ketangguhan ekonomi Riau harus kita bangun dari dalam rumah sendiri. Jangan cuma nunggu rezeki dari fluktuasi kurs, tapi bangunlah ekonomi yang punya akar kuat di tanah kita sendiri. Ya kan.


Dahlan Tampubolon, Ph.D.

Ekonom Senior Riau

 

Tags

Terkini