PEKANBARU, LIPO – Semangat Hari Kartini 2026 terasa nyata di lingkungan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau. Bukan sekadar peringatan tahunan, nilai perjuangan emansipasi perempuan tercermin dalam kiprah Asisten Pengawasan (Aswas), Dwi Astuti, SH., MH, yang konsisten menghadirkan ketegasan, empati, dan integritas dalam tugasnya.
Di tengah dominasi laki-laki dalam dunia penegakan hukum, Dwi memaknai Hari Kartini sebagai dorongan untuk terus menunjukkan kapasitas perempuan dalam ruang-ruang strategis. Baginya, sosok Raden Ajeng Kartini bukan hanya simbol sejarah, tetapi inspirasi yang relevan hingga kini.
“Makna Kartini hari ini adalah bagaimana perempuan bisa berperan aktif, profesional, dan memberikan dampak nyata dalam institusi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurut Dwi, nilai kesetaraan yang diperjuangkan Kartini kini telah berkembang menjadi praktik nyata dalam sistem hukum yang lebih adil dan inklusif. Ia melihat peluang bagi perempuan semakin terbuka, termasuk dalam menangani perkara penting dan menduduki jabatan strategis di lingkungan kejaksaan.
Perjalanan karier Dwi tidak selalu mudah. Ia pernah berada dalam posisi sebagai satu-satunya perempuan di jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) saat memimpin Kejaksaan Negeri di dua daerah. Kondisi serupa juga ia alami saat ini di Kejati Riau.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya dalam memimpin. Ia menyadari adanya stereotip terhadap gaya kepemimpinan perempuan, terutama ketika pendekatan humanis dianggap sebagai kelemahan. Namun, Dwi justru menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun kepercayaan tim.
Ia menekankan bahwa kredibilitas tidak datang secara instan, melainkan dibangun melalui penguasaan tugas, komunikasi yang baik, serta konsistensi dalam menjaga integritas. Dalam lingkungan yang kompetitif, ia melihat tantangan sebagai ruang pembuktian diri.
Dalam menjalankan tugas pengawasan, Dwi mengedepankan keseimbangan antara pendekatan persuasif dan ketegasan. Ia memberi ruang bagi anggota tim untuk menyampaikan pendapat, sekaligus memastikan setiap keputusan tetap berada dalam koridor aturan.
Baginya, perbedaan sudut pandang antara laki-laki dan perempuan justru memperkaya proses pengambilan keputusan. Hasilnya, kebijakan yang diambil menjadi lebih matang dan komprehensif.
Dwi juga menegaskan pentingnya objektivitas dalam setiap proses pengawasan. Ia memastikan seluruh keputusan didasarkan pada fakta dan data, serta bebas dari kepentingan pribadi.
Di luar tanggung jawab sebagai pejabat struktural, Dwi juga menjalani peran sebagai ibu bagi dua anaknya. Sebagai orang tua tunggal, ia harus membagi waktu dan perhatian di tengah tuntutan pekerjaan.
Meski anak-anaknya kini menempuh pendidikan di luar daerah, komunikasi yang terjaga menjadi kunci keharmonisan. Baginya, keluarga adalah sumber semangat yang tidak tergantikan.
“Keberhasilan dalam karier harus sejalan dengan keberhasilan dalam keluarga,” katanya.
Dwi menilai emansipasi perempuan di era sekarang bukan lagi soal menuntut kesetaraan semata, tetapi bagaimana perempuan mampu memaksimalkan potensi diri dan berkontribusi secara nyata.
Ia pun mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk tidak ragu meniti karier di bidang hukum. Menurutnya, bekal utama yang harus dimiliki adalah pendidikan yang kuat, integritas, serta ketahanan mental.
Dengan semangat Hari Kartini 2026, Dwi Astuti menjadi gambaran bahwa perjuangan perempuan terus berlanjut dalam berbagai bentuk. Di balik perannya sebagai pengawas, ia membawa nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, sekaligus melanjutkan semangat Kartini dalam wajah yang lebih relevan dengan zaman.(***)