Diskes Riau Catat Lonjakan ISPA Tembus 10 Ribu Kasus Selama Karhutla, Balita Paling Terdampak

Selasa, 08 September 2026 | 17:33:56 WIB
Ilustrasi/F: int

PEKANBARU, LIPO - Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Riau mencatat lonjakan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Sepanjang periode Agustus hingga awal September, total penderita ISPA di Riau tembus 10.783 kasus.

Kepala Diskes Provinsi Riau, Zulkifli mengatakan peningkatan tersebut diduga kuat berkaitan langsung dengan memburuknya kualitas udara akibat Karhutla yang melanda sejumlah wilayah.

“Total penderita ISPA di Riau selama periode Agustus hingga awal September tercatat sebanyak 10.783 kasus,” kata Zulkifli.

Dari total tersebut, 5.321 pasien adalah laki-laki dan 5.462 pasien perempuan.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan karena kelompok rentan menjadi yang paling terdampak. Data Diskes menunjukkan sebanyak 1.937 balita usia 0–5 tahun terdeteksi menderita ISPA, dengan rincian 1.162 anak laki-laki dan 775 anak perempuan.

Tak hanya balita, kelompok anak usia sekolah 5–9 tahun yang terjangkit juga mencapai 1.844 jiwa, terdiri dari 989 anak laki-laki dan 855 anak perempuan.

Meski terjadi lonjakan, Zulkifli mengklaim fasilitas kesehatan di daerah terdampak masih mampu menampung dan melayani pasien secara maksimal.

Untuk menekan dampak, Diskes Riau mengklaim telah melakukan sejumlah langkah darurat. Mulai dari pembagian masker gratis, kampanye edukasi kesehatan, hingga penyaluran makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita terdampak.

“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas. Tim Medis Darurat di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” sebutnya.

Di tingkat provinsi, Diskes juga mendirikan tenda posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk penanganan kritis. Langkah ini melibatkan akademisi perguruan tinggi serta organisasi profesi kesehatan untuk mendistribusikan masker kepada pengguna jalan.

Diskes juga mengimbau masyarakat untuk melakukan deteksi dini jika mengalami gejala ISPA.

"Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid, dan lanjut usia," katanya.

Ia juga meminta tenaga kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan (Faskes) untuk aktif melaporkan kasus penyakit akibat asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

"Tenaga kesehatan kita di Faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap," tutupnya.

 

Terkini