PEKANBARU, LIPO - Tiga hari berlalu sejak aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPRD Provinsi Riau, Ketua DPRD Riau Kaderismanto memastikan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan telah diteruskan ke pihak terkait.
Ia juga mengklaim sejumlah tuntutan di tingkat daerah sudah mulai masuk tahap pembahasan lanjutan.
"Sudah tiga hari ya, kita tidak berhenti setelah acara selesai. Dua hal besar dari adik-adik mahasiswa itu sudah kita petakan dan kita tindak lanjuti sesuai dengan kewenangan masing-masing," ujar Kaderismanto, Jumat 19 Juni 2026.
Dua poin utama yang disuarakan mahasiswa, kata dia, adalah kritik terhadap kebijakan pemerintah pusat seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, dan efisiensi anggaran negara, serta tuntutan perbaikan sarana pendidikan, infrastruktur, dan beasiswa di lingkungan Provinsi Riau.
Menurut Kaderismanto, untuk poin pertama yang menjadi ranah pemerintah pusat, pihaknya telah mengirimkan surat resmi berisi rekomendasi aspirasi mahasiswa ke DPR RI dan beberapa kementerian terkait.
"Kita sudah kirimkan secara formal. Isinya apa yang menjadi harapan mahasiswa, termasuk soal evaluasi MBG dan efisiensi anggaran yang dinilai memberatkan. Itu sudah kita sampaikan ke otoritas paling tinggi dan kita minta tanggapan," jelasnya.
Sementara untuk tuntutan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Riau, Kaderismanto mengklaim telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas PUPR untuk meninjau ulang anggaran perbaikan sarana sekolah serta infrastruktur jalan yang menjadi keluhan mahasiswa.
"Untuk beasiswa, kita sedang verifikasi ulang data penerima agar lebih tepat sasaran. Perbaikan infrastruktur juga sudah kita usulkan dalam perubahan anggaran. Ini kita kawal betul," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam tiga hari terakhir, tim DPRD Riau juga telah melakukan peninjauan lapangan ke sejumlah lokasi yang disebutkan mahasiswa, termasuk beberapa ruas jalan dan fasilitas pendidikan yang rusak parah.
Lebih lanjut, Kaderismanto menegaskan pihaknya tidak memperlakukan aksi mahasiswa sebagai kegiatan yang sia-sia. Kritik yang disampaikan dengan penuh perasaan itu justru menjadi alarm bagi pemerintah.
"Kita apresiasi. Karena mahasiswa adalah kontrol sosial. Tiga hari lalu mereka datang dengan semangat, sekarang kami sudah bergerak. Ini bukti bahwa aspirasi mereka didengar dan dihormati," pungkasnya.*****