PEKANBARU, LIPO — Bazar buku internasional Big Bad Wolf Books (BBW) resmi menjadikan Pekanbaru sebagai salah satu kota tujuan di awal 2026.
Kehadiran BBW di ibu kota Provinsi Riau yang bertempat di Mall Transmart Pekanbaru ini diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap buku berkualitas dengan harga terjangkau sekaligus mendorong tumbuhnya budaya membaca.
Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, menjelaskan bahwa pemilihan Pekanbaru dilakukan melalui riset dan pertimbangan strategis yang matang. Sejumlah variabel dianalisis, mulai dari jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga meningkatnya jumlah sekolah internasional di Pulau Sumatera.
“Kami juga berdiskusi dengan banyak pihak, termasuk PRDC, untuk melihat kota mana yang pertumbuhan ekonominya cukup baik. Dari berbagai indikator tersebut, Pekanbaru menjadi salah satu kota yang kami pilih,” ujar Wandi.
Menjangkau Semua Kalangan
Wandi menegaskan bahwa Big Bad Wolf tidak hanya menyasar pelajar atau anak-anak, melainkan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, tantangan literasi di Indonesia bukan terletak pada rendahnya minat baca, melainkan keterbatasan akses terhadap buku, khususnya buku berbahasa Inggris yang harganya relatif mahal.
“Minat baca masyarakat sebenarnya ada. Masalahnya, buku sulit ditemukan dan harganya tidak terjangkau. Toko buku juga semakin jarang, bahkan di kota-kota besar,” katanya.
Melalui BBW, masyarakat diberikan alternatif untuk mendapatkan buku berkualitas dengan pilihan yang sangat beragam dan harga lebih bersahabat.
Harga Murah Jadi Daya Tarik Utama
Salah satu keunggulan utama Big Bad Wolf adalah harga buku yang jauh lebih terjangkau dibandingkan toko buku konvensional. BBW menawarkan potongan harga hingga 20–30 persen, bahkan bisa lebih murah dengan dukungan promo dari mitra pembayaran.
“Dengan harga seperti ini, kami berharap semakin banyak masyarakat yang bisa membeli dan membaca buku, dari anak-anak hingga orang dewasa,” tutur Wandi.
Fokus Keluarga Muda dan Pembaca Baru
Di Pekanbaru, BBW juga menargetkan lahirnya pembaca-pembaca baru. Fokus utama diarahkan pada keluarga muda, khususnya orang tua milenial dengan anak usia 4 hingga 7 tahun.
“Kami ingin menjadi alternatif bagi orang tua yang khawatir anaknya terlalu sering bermain gawai. Ajak anak datang ke sini, temukan keseruan membaca buku bersama,” ujarnya.
Berangkat dari Misi Sosial
Di balik nama unik Big Bad Wolf, tersimpan misi sosial yang kuat. Wandi mengungkapkan, salah satu pendiri BBW mengalami disleksia sejak kecil dan kerap tertinggal dalam proses belajar di sekolah.
“Dari pengalaman itu, ia bertekad tidak boleh ada anak lain yang tertinggal hanya karena sulit mengakses buku,” kata Wandi.
Awalnya BBW berfokus pada buku anak-anak, namun kini berkembang menjadi gerakan global yang berupaya mengatasi ketimpangan distribusi buku di berbagai negara.
Jutaan Buku dalam Satu Lokasi
Selama digelar di Pekanbaru, Big Bad Wolf menghadirkan lebih dari 2,5 juta eksemplar buku dengan sekitar 380 ribu judul, menempati area pameran seluas kurang lebih 2.500 meter persegi. Koleksinya mencakup buku anak, fiksi, nonfiksi, hingga topik kesehatan, hobi, spiritual, alam, dan pengembangan diri.
“Secara total kami membawa lebih dari lima juta buku. Hampir semua topik tersedia,” ungkap Wandi.
Kolaborasi Panjang dengan BCA
Kesuksesan Big Bad Wolf di Indonesia juga tidak terlepas dari kolaborasi jangka panjang dengan Bank Central Asia (BCA) yang telah terjalin selama satu dekade. Dukungan BCA sejak awal dinilai menjadi faktor penting keberanian BBW memasuki pasar Indonesia.
“Kami percaya pengalaman terbaik bagi pengunjung hanya bisa tercapai melalui kolaborasi dengan mitra yang juga mengutamakan kenyamanan pelanggan,” ujarnya.
Dengan hadirnya Big Bad Wolf di Pekanbaru, akses masyarakat terhadap buku berkualitas diharapkan semakin terbuka, sekaligus memperkuat budaya literasi di Bumi Lancang Kuning.(***)